Proses Kolaborasi Pengembangan Ekowisata Berbasis Pengurangan Risiko Bencana di Desa Wisata Amping Parak
DOI:
https://doi.org/10.59050/jian.v23i1.428Abstract
Particularly in areas with high disaster vulnerability. Desa Wisata Amping Parak in Pesisir Selatan Regency is one example of a tourism village that has successfully integrated ecotourism development with a Disaster Risk Reduction (DRR) approach. This study aims to analyze the collaborative process among actors in the development of DRR-based ecotourism in Desa Wisata Amping Parak using the collaborative governance framework proposed by Ansell and Gash (2008), which consists of initial conditions, institutional design, facilitative leadership, and the collaborative process. This research employs a qualitative method with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews and documentation review, and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings indicate that collaboration is supported by initial conditions characterized by resource imbalances, non-material participation incentives, and the absence of conflict among actors. The institutional design is strengthened by regulatory support and the institutionalization of Pokdarwis LPPL as a coordination hub. Facilitative leadership plays a key role in fostering trust and participation, while the collaborative process unfolds through face-to-face dialogue, trust-building, commitment to the process, shared understanding, and the achievement of intermediate outcomes. This collaboration generates small wins that reinforce legitimacy and the sustainability of cooperation. The study concludes that collaboration in Desa Wisata Amping Parak has been implemented effectively and has the potential to serve as a best practice for DRR-based tourism village development.
Keywords: Collaboration, Tourism Village, Ecotourism Development, Disaster Risk Reduction (DRR).
Abstrak. Pengembangan desa wisata yang berkelanjutan memerlukan tata kelola kolaboratif, terutama pada wilayah yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Desa Wisata Amping Parak di Kabupaten Pesisir Selatan merupakan salah satu desa wisata yang berhasil mengintegrasikan pengembangan ekowisata dengan pendekatan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses kolaborasi antaraktor dalam pengembangan ekowisata berbasis pengurangan risiko bencana (PRB) di Desa Wisata Amping Parak dengan menggunakan kerangka teori kolaborasi Ansell dan Gash (2008), yang meliputi kondisi awal, desain kelembagaan, kepemimpinan fasilitatif, dan proses kolaborasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi didukung oleh kondisi awal berupa ketidakseimbangan sumber daya, insentif partisipasi non-material, dan ketiadaan konflik antaraktor. Desain kelembagaan diperkuat oleh regulasi dan pelembagaan Pokdarwis LPPL sebagai simpul koordinasi. Kepemimpinan fasilitatif berperan dalam membangun kepercayaan dan partisipasi, sementara proses kolaborasi berjalan melalui dialog tatap muka, pembangunan kepercayaan, komitmen terhadap proses, pemahaman bersama, dan pencapaian hasil sementara. Kolaborasi ini menghasilkan small wins yang memperkuat legitimasi dan keberlanjutan kerja sama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolaborasi di Desa Wisata Amping Parak telah berjalan secara efektif dan berpotensi menjadi praktik baik pengembangan desa wisata berbasis PRB.
Kata Kunci: Kolaborasi, Desa Wisata, Pengembangan Ekowisata, Pengurangan Risiko Bencana (PRB).
References
Akbar, A., Harahap, R. H., & Rujiman, R. (2022). Upaya Pengembangan Sektor Pariwisata Melalui Peran Kreativitas Pemuda. Perspektif, 11(1), 69-76.
Ansell, C., & Gash, A. (2007). Collaborative Governance in Theory and Practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 18(4), 543–571.
Ansell, C., & Gash, A. (2008). Collaborative governance in theory and practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 18(4), 543–571.
Arifin, N. (2019). Manajemen Sumberdaya Manusia: Teori dan Kasus. Jepara: Unisnu Press.
Badan Informasi Geospasial. (2024). Data Pulau Indonesia tahun 2024. Sistem Informasi Pulau-Pulau Indonesia (SI PULAU). https://sipulau.big.go.id
Hardiyansyah, H. (2023). Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Indonesia. Jurnal Perspektif, 21(1), 15–26.
Jadesta. (2024). Profil Desa Wisata Amping Parak – Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). https://jadesta.kemenparekraf.go.id
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. (2024). Rencana Strategis Kemenparekraf-Baparekraf 2020–2024. https://katalogdata.kemenparekraf.go.id/dataset/bdb904d7-5f62-49d0-a924-6fb71157ce20/resource/5ad4cd33-8263-4036-ba19-70ff0b2741f2/download/rencana-strategis-kemenparekraf-baparekraf-2020-2024-perubahan_comp.pdf
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. (2021). Pedoman Desa Wisata (Edisi II). Jadesta. https://jadesta.kemenparekraf.go.id/getdata/file/Buku-Membangun-Desa.pdf
Molla, Y., Supriatna, T., & Kurniawati, L. (2021). Collaborative Governance dalam Pengelolaan Kampung Wisata Praiijing di Desa Tebara Kecamatan Kota Waikabu-Bak Kabupaten Sumba Barat. Jurnal Ilmu Pemerintahan Suara Khatulistiwa, 6(2), 140–148. https://doi.org/10.33701/jipsk.v6i2.1790
Mongabay.co.id. (2024). Desa Wisata Amping Parak Kembangkan Ekowisata Tangguh Bencana. https://www.mongabay.co.id
Mulia, V. B. (2021). Memahami dan mengelola dampak pariwisata. Jurnal Kepariwisataan, 20(1), 75-85.
Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 3 Tahun 2022 tentang Standar Pengelolaan Desa Wisata. https://peraturan.bpk.go.id/Details/248521/permenpar-no-3-tahun-2022
Rahma, A. A. (2020). Potensi sumber daya alam dalam mengembangkan sektor pariwisata di Indonesia. Jurnal Nasional Pariwisata, 12(1), 1-8.
Westsumatra360.com. (2024). 3 Desa Wisata Asal Sumatra Barat yang Berjaya di ADWI 2024. Diakses dari https://westsumatra360.com/3-desa-wisata-asal-sumatra-barat-yang-berjaya-di-adwi-2024/














