Pola Komunikasi Tokoh Adat dalam Melestarikan Budaya Tradisional Suku Sambori

Authors

  • Arief Hidayatullah Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo Bima
  • Firdaus Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo Bima
  • Ifayani Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo Bima

Keywords:

Komunikasi, Ketua adat, Budaya Trasional, Suku Sambori.

Abstract

Judul Penelitian, peran tokoh adat dalam melestarikan budaya tradisional suku sambori. Sambori merupakan sebuah desa yang ada di wilayah Kecamatam Lambitu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Desa Sambori merupakan sebuah desa yang berada didataran tinggi pengunungan Lambitu Kabupaten Bima.  Kehidupan masyarakat di Desa Sambori masih tergolong sangat tradisional, dimana masyarakat masih mempertahankan nilai-nilai, norma dan aturan yang sudah sejak lama tertanam secara turun-temurun. Masyarakat Sambori memiliki adat-istiadat yang berbeda dengan orang Bima pada umumnya. Seperti bahasa, sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan, tradisi kesenian dan norma sosial. Masyarakat Sambori, sebagainnya masih tinggal dalam rumah adat yang di sebut “Uma Lengge”. Kehidupan sosial masyarakat suku Sambori masih sangat kental dengan “nuntu ra mufaka” yang lebih di kenal dengan musyawarah. Biasanya Suku Sambori menyelesaikan setiap masalahnya dengan melakukan musyawarah untuk mendapatkan kesepatakan bersama. Tokoh adat masyarakat Sambori memiliki peran yang sangat penting dalam mewarisi serta melestarsikan berbagai budaya suku Sambori tersebut. Pola komunikasi merupakan aktivitas komunikasi yang dilakukan secara berluang (terus-menerus) hingga menjadi tanda yang melekat pada proses komunikasi tersebut. Menurut Onong Uchjana Effendy (2010) bahwa pola komunikasi dikelompokan menajadi tiga, yakni pola komunikasi primer, sekunder dan linear. Sedangkan menurut Deddy Mulyana (2003) pola komunikasi meliputi; pola komunikasi satu arah, pola komunikasi dua arah dan pola komunikasi banyak arah. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian dekskriptif kualitatif. Subyek penelitian ditentukan dengan purposive sampling, yakni tokoh adat masyarakat Sambori. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah obsevasi, wawancara dan dokumentasi. Proses analisa data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data,  yakni  mereduksi  data,  display data  dan  penarikan  kesimpulan.  Uji  keabsahan  data  yang digunakan adalah dengan triangulasi data. Data disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif tentang pola komunikasi tokoh ada dalam melestarikan budaya tradisional di Sambori. Pola komunikasi yang dilakukan Ompu Alwi kalau dilihat dari perspekti pola komunikasi, maka pola komunikasi yang dilakukan Ompu Alwi adalah pola komunikasi linear atau  pola  komunikasi  dua  arah  (two ways communication).  Ompu Alwi  selalu  menjalin komunikasi  dua  arah  dengan  seluruh  elemen masyarakat  Sambori.  Ompu  Alwi  berperan sebagai komunikator sekaligus sebagai komunikan. Menurut Ompu Alwi, hal tersebut dilakukan untuk menarik perhatian dari masyarakat. Sebap, dengan mendengarkan masukan dari masyarakat, maka masyarakat merasa dihargai oleh pimpinan dalam lingkunganya. Dengan demikian, setiap aktivitas masyarakat bisa diselelsaikan secara bersama sesuai dengan  peran dan  fungsinya  masing-masing.  Demikian juga dalam hal pelestarian kebudayaan masyarakat Sambori

Downloads

Published

2023-01-06

How to Cite

Arief Hidayatullah, Firdaus, & Ifayani. (2023). Pola Komunikasi Tokoh Adat dalam Melestarikan Budaya Tradisional Suku Sambori. Jurnal Komunikasi Dan Kebudayaan, 6(2), 1–11. Retrieved from https://jurnal.universitasmbojobima.ac.id/index.php/jkk/article/view/19

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>