Komunikasi Antarbudaya Suku Sasak Dengan Suku Mbojo Pada Masyarakat Transmigran Di Kecamatan Tambora Kabupaten Bima-NTB

Authors

  • Yayu Rahmawati Mayangsari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo Bima
  • Rahmi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo Bima
  • Wardiman Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo Bima

Keywords:

komunikasi, antarbudaya, Mbojo, Sasak, akulturasi

Abstract

Penelitian ini berjudul “Komunikasi Antar Budaya Suku Sasak dengan Suku Mbojo (Studi

Kasus Akulturasi Budaya Masyarakat Transmigran Di Kecamatan Tambora Kabupaten Bima-NTB).

Dilatarbelakangi keingintahuan peneliti tentang  akulturasi budaya  masyarakat  transmigran suku Sasak dengan suku asli Mbojo di Kecamatan Tambora. Sebab Kedua-duanya berada di dalam wilayah pemerintahan propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun memiliki latar belakang budaya yang berbeda, dimana Suku Sasak dipengaruhi oleh Suku Bali yang bercorak Hindu-Budha sedangkan Suku Mbojo dipengaruhi Suku Bugis yang bercorak Islam.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana akulturasi budaya yang terjalin antar

Suku Sasak sebagai pendatang atau transmigran terhadap Suku Mbojo sebagai warga asli?. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana akulturasi budaya yang terjadi antar Suku Sasak sebagai pendatang atau transmigran terhadap Suku Mbojo sebagai warga asli, untuk mengetahui bagaimana komunikasi interpersonal dan komunikasi sosial transmigran melakukan proses akulturasi, serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses akulturasi transmigran. Hasil penelitian ini bahwa suku Sasak berhasil beradaptasi dengan budaya serta kebiasaan suku Mbojo sebagai warga asli. Walaupun pada awalnya sempat merasa cemas dan tidak pasti. Namun dengan cara ikut andil dalam acara-acara suku Mbojo, menjalin kedekatan interpersonal dengan masyarakat sekitar akhirnya suku suku Sasak mulai bisa beradaptasi dan berbaur dengan masyarakat setempat.

Ketika komunikasi antarbudaya suku Sasak dan Mbojo terjalin dengan baik, maka terjadilah

akulturasi kedua budaya tersebut. Akulturasi yang terjadi antara lain: Akulturasi budaya materil yaitu: (1) Transmigran sudah tidak menggunakan sarung sepanjang hari di berbagai aktivitasnya dan mulai menggunakan celana untuk aktivitas-aktivitas tertentu; (2) Transmigran (suku Sasak) mulai bisa makan sayur ro’o parongge serta bentuk rumah para transmigran sesuai dengan yang disediakan oleh pemerintah; Akulturasi budaya non-material yaitu: (1) Masyarakat transmigran (suku Sasak) sudah bisa menggunakan bahasa Mbojo jika berkomunikasi dengan suku Mbojo; (2) Transmigran sudah beradaptasi dan ikut melakukan budaya weha rima yaitu budaya saling membatu misalnya pada saat panen tiba; (3)  Transmigran sudah beradaptasi  dan  ikut  melakukan  budaya  teka  ra  ne,e  yaitu membantu keluarga melaksanakan hajatan dengan membawakan sesuatu berupa kue, beras atau uang yang diberikan kepada yang punya hajat (4) Transmigran sudah ikut melakukan budaya Mbolo weki yaitu kegiatan musyawarah mufakat persiapan hajatan

Downloads

Published

2023-01-06

How to Cite

Yayu Rahmawati Mayangsari, Rahmi, & Wardiman. (2023). Komunikasi Antarbudaya Suku Sasak Dengan Suku Mbojo Pada Masyarakat Transmigran Di Kecamatan Tambora Kabupaten Bima-NTB. Jurnal Komunikasi Dan Kebudayaan, 6(2), 71–82. Retrieved from https://jurnal.universitasmbojobima.ac.id/index.php/jkk/article/view/26

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>